Sedikit Cerita Dibalik Pembuatan Video Live Kuas Cielo

Pagi itu saya terbangun dengan kepala pusing dan badan lemas di Kantor Hujan! Radio, pagi yang lumayan cerah dan udara di Jalan Loader memang segar walaupun dekat dengan Jalan Pajajaran, pusat keramaian di Kota Bogor yang tiap akhir pekan selalu ramai oleh turis lokal konsumtif. Dengan pandangan yang masih sedikit buram saya melihat salah seorang sahabat saya sesama penggiat di Hujan! Radio, Vishnu Panji Pradana sudah asyik di depan laptopnya sambil menjulurkan kaki ke arah Afi yang tidur dengan posisi mengganggu pandangan, polusi mata di pagi hari. Sambil terus mempermainkan Afi, mulut Vishnu tak henti mengoceh mengajak makan dan meledek Afi dengan gaya khas yang terkadang memang membuat kesal, apa lagi sepagi ini. Tak biasanya memang saya bangun pagi, walaupun saya baru tidur sekitar 3 jam karena keriaan yang terjadi di Hujan! Radio, tapi tak ada waktu untuk kembali tidur karena rencananya hari ini kami akan mengerjakan video live akustik untuk Kuas Cielo. Singkat cerita, setelah beberapa kekonyolan yang sudah menjadi makanan sehari-hari (dan justru menjadi mood booster) kami bersiap untuk berangkat menuju rumah Jaling (Vokalis dari Kuas Cielo) di daerah ceger yang menjadi meeting point.

Sesampainya disana terlihat anak-anak Kuas Cielo sedang mengobrol sambil sesekali memainkan instrumen yang sudah disiapkan. “Masih kurang Ancha” kata Volta sembari memainkan gitarnya, sambil menunggu Ancha datang kami bergegas menuju warteg terdekat karena alarm perut sudah berbunyi sedari tadi dan jam memang sudah menunjukkan pukul 1 siang, waktu makan siang paling ideal. Setelah makan siang, terlihat Ancha telah datang dan bergabung dengan teman-temannya untuk berlatih sebelum kami berangkat menuju lokasi pengambilan gambar. Rencananya kami akan melakukan proses pengambilan gambar di Plaza Pangrango, sebuah mall yang sudah bangkrut dan kini kondisinya mengenaskan, tempat paling pas untuk jin membuang anak.

Saat kami tengah menyiapkan alat untuk shooting, terlihat langit diluar sudah gelap dan sedikit demi sedikit air mulai turun, gerimis. Kami hanya bisa menunggu sampai langit kembali bersahabat dan hujan reda. Setelah bosan menunggu cuaca yang tak kunjung membaik, kami berinisiatif untuk melakukan shooting diruang tamu rumah jaling sebagai Plan-B jika cuaca tak juga membaik, karena saat itu sudah cukup sore dan tinggal beberapa jam lagi menuju maghrib. Proses pengambilan gambar pun dimulai, sempat beberapa kali take ulang karena beberapa kesalahan dan suara Jaling yang mendominasi dan membuat peak audio, sampai akhirnya menemukan blocking yang pas untuk Jaling dan yang lainnya sehingga audio yang terekam tidak terlalu dominan dengan salah satu suara. Pengambilan gambar lakukan secara one shoot, begitu pula dengan audio, tidak ada overdub, semuanya dilakuan dengan one take untuk mengambil ambient dari reverb ruangan serta suara-suara lingkungan,  field recording. Sejam berlalu dan proses take di rumah Jaling selesai, kami yang masih penasaran akhirnya memutuskan untuk mengambil gambar sekali lagi di luar, menuju tempat yang sedari awal telah direncanakan, Pangrango Plaza.

Sampai di Pangrango Plaza kami bernegosiasi dengan penjaga gedung dan berdalih akan melakukan pemotretan band bukan shooting video. Kembali kami menunggu diluar sambil mengisi perut dengan cemilan berupa cimol. Pencahayaan gedung yang gelap sepertinya sedikit banyak akan membuat kami kesusahan, karena kami tak membawa perangkat lighting maupun senter, hanya ada senter semaput dari korek gas. Setelah berembuk akhirnya kami berpindah lokasi ke Taman Kencana, sampai di lokasi tanpa membuang banyak waktu kami langsung menyiapkan segala perangkat dan melakukan shooting. Sempat terjadi beberapa kendala seperti blocking yang harus diatur kembali, kamera over heat, dan yang paling fatal adalah hujan kembali turun! Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di kedai teh, terlihat muka-muka lelah yang sudah kehilangan semangat. Saya yang sedikit bingung dan kembali mencari-cari lokasi alternatif sambil berjalan-jalan di sekitar agri park, sempat terpikir untuk melakukannya di dekat kandang kelinci, tapi ini bukan video klip lagu anak-anak. Akhirnya kami memutuskan untuk berjudi dengan cuaca, kami melakukan pengambilan gambar lagi di Taman Kencana, dan kendala pun kembali terjadi, kali ini kamera kembali over heat. Gerimis pun masih tak kunjung reda, walaupun kecil tapi kami tahu ini akan lama. Kami lupa sedari awal tidak berdoa untuk kelancaran proses produksi video ini. Berdoa pun dilakukan, dan ini merupakan kesempatan terakhir kami untuk melakukannya sebelum kamera kembali over heat lagi. Tak disangka proses pengambilan gambar dan audio setelah berdoa menjadi sangat lancar, kamera tak lagi overheat, suara jaling tidak peak, dan semuanya dilakukan dalam satu kali shoot saja! Muka-muka puas terlihat, kami berjanji untuk memulai segala sesuatu dengan berdoa terlebih dahulu dan kembali ke kedai teh untuk beristirahat sejenak serta merekam podcast untuk Hujan! Radio, lalu kami kembali ke kantor menutup hari dengan siaran dan rasa capek yang tak tertahankan tentu saja dengan kepuasan dan doa.


Kuas Cielo – Water Reborn (Live Accoustic at Taman Kencana Bogor, 22/05/2011)
This video was inspired by the original take-away shows by Vincent Moon
Camera, Editing, & Composition: Vishnu Panji Pradana
Audio: Gilang Nugraha
Director: Ricky Marhesa
Produced by Kamar Hujan Labs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: