Peletakan Batu Pertama

Peletakan Batu Pertama

Beberapa minggu belakangan ini saya seperti kehilangan arah, entah kenapa setiap aktifitas yang saya jalani selalu tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Puncaknya adalah ketika akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kampus tempat saya belajar sekarang. Bagi saya itu seperti puncak gunung es dari segala kekacauan yang terjadi pasca kehilangan sosok Ibu dalam hidup. Begitu berartinya Beliau hingga saya tak bisa menerjemahkannya dalam kata-kata, frase-frase yang menggambarkan keindahan tidak cukup untuk menggambarkan sosok mulia itu, sosok yang kini telah berpulang, kembali ke kehidupan yang sebenar-benarnya. Mungkin sebagian orang hanya bisa berkata “Sabar Lang”, “Doakan ya”, “Beliau sudah tenang disana”, dan sebagainya. Tapi bagi saya pribadi, kata-kata penyemangat seperti itu sudah terlalu basi untuk diindahkan, terlalu naif dan justru tidak mendorong. Bagi saya kata-kata itu diam ditempat, membuat saya hanya memijakkan kaki ke tempat yang sama, berputar-putar, dan kembali lagi ke titik kosong. Kenapa kosong?  Karena kata “Ibu” tidak hanya berarti sebagai seseorang yang melahirkan, seseorang yang begitu mulia, seseorang yang mencintai dan menyayangi buah hatinya dengan segala daya dan upayanya. Kata “Ibu” bagi saya memilik arti “Tujuan Hidup”, tujuan dari segala arah yang ada, tujuan dari segala aktifitas yang saya jalani, semuanya untuk Beliau.

Kehilangan sosok Ibu ketika kita sangat berketergantungan terhadapnya merupakan sebuah pukulan telak dan sangat keras, tepat dipipi, lalu tiap syaraf menghantarkannya menuju otak, tidak sakit tapi mengagetkan, kaget dalam artian yang sangat di dramatisir. Hari-hari itu memang sudah jauh berlalu, saya akui kami sekeluarga sangat cepat melakukan “self-healing” pasca kehilangan sosok tersebut, kecuali saya mungkin. Banyak hal yang mengganjal dalam pikiran, terlalu banyak. Saya kehilangan tempat mengadu dan kini hanya bisa menyimpannya hingga menggunung, menunggu puncaknya longsor. Bukan, bukan berarti saya tidak menghargai keberadaan sahabat dan keluarga lainnya, mereka merupakan keberadaan terindah yang masih saya miliki di dunia yang kotor dan bengis ini. Melukiskan mereka dalam kata sama sulitnya bagi saya seperti melukiskan kata Ibu. Tempat saya mengadu ya mereka ini, tempat saya bisa mengambil jatah tawa dan jatah bersenang-senang selagi muda. Keluarga bagi saya layaknya oase ditengah gurun, penggunaan metafor yang basi? Tapi memang seperti itu adanya, tempat saya bernaung dan berlindung dari himpitan dan kejaran manusia-manusia penekan diluar sana, keluarga saya syukurnya merupakan keluarga yang sangat liberal dan tanpa tendensi, pengecualian untuk urusan akademik, hehehe.

Kembali lagi ke bahasan awal, beberapa minggu belakangan memang saya seperti menghindar dari kenyataan, terus berlari walaupun akhirnya ditemukan lagi olehnya. Mau tidak mau yang namanya kenyataan memang harus dilawan dan dirubah, atau paling tidak diterima (ketika segala usaha masih mentok juga). Keputusan besar bagi saya untuk berhenti kuliah, tidak mudah memang untuk masuk dan menjadi mahasiswa dikampus saya yang sekarang (saya dua kali ikut tes masuk dan baru diterima tahun 2010). Ibu, merupakan sosok yang berperan cukup besar untuk mengarahkan saya masuk kampus ini dan demi alasan Ibulah saya tetap masuk kesana, walaupun ketika itu Beliau sudah tidak ada. Salah satu alasan kuat bagi saya untuk keluar, diluar ketidakcocokkan karakter dan ketertarikan terhadap bidang studi Ekonomi adalah sudah tidak adanya tujuan dan motivasi untuk tetap disana, semuanya tidak akan sama dengan apa yang saya jalani ketika masih D3. Beberapa sahabat mendebat keputusan saya ini, mungkin bagi mereka saya hanya tidak mampu mengejar materi yang diberikan, tapi bukan itu alasan saya mundur, alasan sebenarnya berulang kali saya sebutkan diatas.

Dua tahun lalu ketika saya pertama kali membuat blog, semua tulisan yang ada merupakan tulisan-tulisan galau picisan dari seorang laki-laki yang dikecewakan wanita, terlalu personal atau mungkin terlalu goblok dan norak. Ketika itu dunia saya hanya mengejar yang namanya cinta, naif dan tolol dalam satu waktu. Kini semua tulisan itu sudah saya hapus dan sayapun akhirnya migrasi ke wordpress, bukan berarti saya malu, hanya saja kurang pantas untuk diperlihatkan dalam sebuah media yang terlalu umum seperti blog. Biar saja itu saya tulis kembali dihati dan saya simpan sendiri, hehehe. Saya harap ini menjadi “batu pertama” bagi saya untuk kembali menulis, menulis apa saja, karena bagi saya hidup lebih tepat digambarkan dalam tulisan, tanpa tulisan tidak akan ada film, tanpa tulisan tidak akan ada komposisi dari musik atau suara. Tiap kata berarti gerak dari lakon, kalimat adalah pengadegan, dan alinea adalah babaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: