Dosa Dikantung Celana

Titian pagar hijau basah dan semerbak wangi tanah,
ketika langit hitam tanpa bintang bersenandung ode hujan,
jejak sandal di lantai tertapak warna lumpur basah,
mengingat kata taqwa yang kusimpan di laci kamar..

Susunan daun yang aku sebut tanaman,
mereka basah..Dan aku tidak..
Pijakan kaki yang kusebut jalan,
mereka basah dan aku tidak,
kumpulan bulu berkaki,bertelinga,dan berbuntut,
mereka tak basah,dan aku tidak..

Menerima satu,dua,bahkan berjam2 air langit,dengan lapang,
ditempa waktu dan mereka tak pernah flu,
kokoh,hijau,rimbun..

Mereka kuat,aku tidak..

Titian pagar hijau basah dan semerbak wangi tanah,
ketika langit hitam tanpa bintang bersenandung ode hujan,
jejak sandal di lantai tertapak warna lumpur basah,
mengingat kata taqwa yang kusimpan di laci kamar..

Susunan daun yang aku sebut tanaman,
mereka basah..Dan aku tidak..
Pijakan kaki yang kusebut jalan,
mereka basah dan aku tidak,
kumpulan bulu berkaki,bertelinga,dan berbuntut,
mereka tak basah,dan aku tidak..

Menerima satu,dua,bahkan berjam2 air langit,dengan lapang,
ditempa waktu dan mereka tak pernah flu,
kokoh,hijau,rimbun..

Mereka kuat,aku tidak..
Mereka taqwa,aku..?
Aku mengambil kata taqwa yg penuh jaring laba2 di laci meja,
menyimpannya untuk 25hari kedepan atau selamanya?
Genangan dalam kubangan,
aku berkaca layaknya narcissus.Atau siapalah ia yang membuat kata narsis menggema di abad gila..
Aku terjebak refleksiku,
hitam..Dan..Kemana kata taqwa?Ia lari ke kantung celana..Taqwa yang kusimpan ditengah muka..

26 weeks 3 hours ago

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: